Monday, 11 April 2011
Tuesday, 29 March 2011
Advertising Language Theory
Advertising is a kind of communicative behavior and communication arts, advertising success, the key is to see whether it can seize your audience psychology. Relevance Theory is to explore the relationship between communication and cognition Pragmatic Theory. In this paper, using relevance theory to explore the advertising translation, advertising translation to find the best associated policies.
An advertising feature: Broad advertising, is widely advertised, that is something widely inform the public of promotional activities. The narrow sense of advertising refers to the enterprises for the purpose of Marketing products and services, with paid way through the mass media to provide Information and persuade people to buy communication activities. Advertising has the following characteristics: promotional, informational, persuade nature.
Understanding of the theory of association: Relevance theory is the Western linguists Sperber and Wilson's relevance based on the criteria proposed by Grice's theory of Cognitive Pragmatics. They believe that language communication is an explicit - the reasoning process, rather than the traditional communication theory, coding - decoding process. Relevance Theory is the core of the principle of seeking the best correlation, that is, acts of human communication will have one of the best correlation of expectations, the recipient to determine the communication's communicative intent, it must be known to both the cognitive communicative environment, find each other between the discourse and context of optimal relevance, by reasoning, infer the implied meaning of context in order to obtain contextual effects to achieve communicative purposes.
Relevance Theory and Advertising Case Study: In the Relevance Theory framework, the communicative act is an explicit - cognitive behavioral reasoning. When the advertisers through advertising words express, it will certainly want your ad to the audience through the explicit content of reasoning out the advertiser's communicative intent. Therefore, how to lead the audience's attention (Attention), raised their interest (Interest), thus producing Desire (Desire), in order to take action (Action), referred to as AIDA. AIDA fully reveal the audience to accept an advertisement for the whole mental process. As the English language and Culture differences and advertising style-specific features, advertising translation to achieve optimal relevance, in most cases require flexible, multi-use rewriting or rewrite. Specific operations can be from the following aspects:
1. Transfer Perspective Such as the Shanghai Watch Factory Diamond watch ads: Chushoubufan diamond table.
PRESIDENT: Buy a Diamond brand watch, if every second counts for you. Ad translation captures the audience's cognitive environment, using the familiar expression of the audience to meet their values. However, in contrast to the original, in addition to 'Diamond Watch' and corresponds to a Diamond brand watch, almost no correlation. However, the translation expressed implicitly contains the original meaning of ingenuity in the use of the English language pun count - with the 'timing' and 'value' of the double meaning of the language skills of its head. Reproduction of the original customers to 'buy' the imperative features.
2. Conversion narrative - induction deduction changes Such as: opening a new international tourist attraction - Nanxi Scenic Area. Boat trip from the source of enlightenment and benevolence and to enjoy the river scenery and unique ... ... On the occasion of the scenic south of Zhejiang Nanxi River, located in a well-known domestic and foreign aids production of 'leading' companies - Zhejiang Yongjia Teaching Instrument Factory. PRESIDENT: Standing by the side of the picturesque Nanxi River, a newly opened resort by the state in south Zhejiang, is Yongjia Teaching Instrument Factory - a head enterprise well known in and out of China for manufacturing teaching facilities. Original start Attractions - Nanxi Scenic Area as his starting point a detailed description of the unique scenic landscape, the end of the paragraph dotting 'occasion of the ... ... ordinance factory'. The translation is omitted in the original description of all the scenery, indicating location and directly point out the center - Yongjia Teaching Instrument Factory, and then further described the plant in the country's reputation and position is the center highlights.
3. Borrowed idiom proverb Proverbs are often able to dilute the audience awareness in the Context of the product from a foreign country of strangeness. The greatest benefit of this approach is the target language in the idiom proverb can be-they're starting to skillfully bring the audience closer to products and advertising purposes. The following is a treatment of heart disease called 'Suxiao Jiuxin pill' (Quick Results Heart-Save Pill) drug advertising: reposted elsewhere in the paper for free Download Center Carry being prepared,Portable and near misses. Sir: A friend in need is a friend indeed. Ad original loved by the Chinese four-character grid, Antithesis neat, fast-paced, resonate powerfully. But if not flexible, either literal or free translation, it is difficult to maintain the original language of advertising efforts. The translation borrowed from a widely circulated English proverb, to take anthropomorphic rhetoric reveals the efficacy of the drug. To make the audience from the cognitive receptive and easy to remember.
4. Conclusion
The main purpose of advertising translation is to attract customers and ultimately for customers to make purchases. Therefore, in-depth study of target language translation should be the audience's cognitive environment, bold words and sentences beyond the original limits, to achieve structural transformation and adaptation to the practical realization of advertising translation AIDA features, the real principle of optimal relevance of relevance theory.
References:
[1] Sperber, Dan and Deirdre Wilson. Relevance: Communication and Cognition [M]. Oxford: Basil Blackwell, 1986
[2] He Zhaoxiong: A New Summary of Pragmatics [M]. Shanghai: Shanghai Foreign Language Education Press, 2000
[3] Huang Guowen: Summary of Discourse Analysis [M]. Changsha: Hunan Education Press, 1988
[4] Ning Jian-xin CHEN Guan-Asia: Practical Advertising English [M]. Zhengzhou: Henan People's Publishing House, 1997
[5] Xu Qiuying: Modern Advertising Rhetoric [M]. Beijing: China Economic Publishing House, 1998 reposted elsewhere in the paper for free download.
Friday, 17 December 2010
puisi
Npm : 10607014
Kelas : 4sa02
“Hujan”
Awan menatapku dengan kemurkaan,
Langit indah menjadi terlihat sedih,
Matahari pun sembunyi dibalik awan,
Seketika itu petir saling menyahut,
Cuaca yang terang menjadi gelap,
Hujan pun turun dengan derasnya…
Hujan…
“Air”
Semua makhluk membutuhkanmu,
Tanpamu kami bisa mati karena kering dan kehausan,
Mata mu yang bening,
Menyejukkan jiwa yang kering,
Air,…
Tanpamu… aku sirna..
“Ibu”
Saat matahari menghilangkan cahayanya,
Langitpun menjadi gelap,
Dan malam pun telah tiba,
Bayangmu pun hadir ditengah kegelapannya,
Hadirmu yang selalu ku impikan,
Membuat aku selalu terbayang,
Bersamamu membuat suatu kenangan,
Kisah yang tak akan terlupakan,
Perjuanganmu yang tak pernah kenal lelah,
Jasamu yang tak terbayarkan,
Engkaulah orang yang kubanggakan,
Yang tak kan pernah tergantikan,
Ibu….
Kau pelepas dahaga dikala aku haus,
Kau penerang hati dikala aku kegelapan,
Kau mutiara termahal,
Kau telaga kehidupan.
“Butuh Waktu”
Butuh waktu semenit untuk mengenalmu,
Butuh waktu satu jam untuk menyayangimu,
Butuh waktu satu hari untuk mencintaimu,
Tetapi…
Butuh waktu seumur hidup untuk melupakanmu.
“Rindu”
Sebaris waktu bersamamu,
Menjadi pahatan terindah dalam perjalanan hidupku,
Tak salah bila rinduku tak pernah pupus,
Biarkan saja rinduku melimpah untukmu,
Semuanya punya makna untukku.
“Pelangi”
Warnamu indah seperti lampu natal,
Kau senyum diatas langit,
Membuat semua orang kagum dengan indahnya senyumanmu,
Warnamu mewarnai hariku,
Hatiku menjadi indah, seindah warnamu.
“Ombak”
warnamu biru seperti langit
gelombangmu menggetarkan jiwa
suaramu memanggil lirih
namun ada kehidupan didalamnya.
“Gitarku”
suaramu menyiram nada hatiku
kau mengisi ruang sepiku
kesetiaanmu membuat senar hatiku tak jenuh
wahai gitarku.
“Batu”
kau diam membisu
seolah tak mendengarkan celotehanku
ku kecewa dengan sikapmu
tapi aku tahu, kau hanyalah batu.
“Angkot”
ketika jauh, kau memandangiku
ketika dekat, kau menoleh padaku
ternyata jauh dekat hanya 2000.
(bayarlah ongkos sesuai tarif)
Hikmah di Balik Kecelakaan
Rina menjawab “aku baru mau berangkat nih”.
“eh lo mau naik kereta ya?jangan naik dulu, tunggu aku, aku bawa motor hari ini, jadi kita berangkat bareng aja”
“oke deh kalau begitu”.
Rina pun berjalan dengan santai, karena ia pikir naik motor, jadi akan lebih cepat sampai. Baru beberapa langkah saja temannya sudah menelpon lagi.
“hallo, eh Rin sorry aku tidak jadi bawa motor, motornya mau dipakai sama kakak aku” “oh begitu, iya sudah tidak apa-apa, aku mau naik kereta saja kalau begitu”.
Stasiun dari kosanya tidak begitu jauh, jadi tidak perlu waktu lama untuk sampai kesitu. Setelah sampai distasiun Rina langsung membeli tiket yang ekonomi, ternyata kereta akan datang sepuluh menit lagi, syukurlah kalau begitu jadi ia tidak akan menunggu terlalu lama. Lalu teman Rina menelpon lagi.
“hallo, Rin aku jadi bawa motor, kakak aku tidak jadi bawa ternyata, kita berangkat bareng ya?”
“aduh tapi aku sudah membeli tiket kereta dan keretanya sebentar lagi akan datang” temannya Rina terus meyakinkan ia untuk pergi bersamanya, Rina berpikir memang lebih cepat naik motor dan irit ongkos juga, hehe. Ada perasaan ragu dihatinya, perasaan Rina mulai tidak enak. Ia berfikir sejenak, apakah sebaiknya naik kereta saja, ditengah keraguan Rina temannya menelpon lagi,
“Rin kita janjian dihalte UI saja ya, aku lagi dijalan mau kesana nih, oke”. Tut..tut…
telpon terputus, setelah Rina memutuskan untuk pergi bersama dengan temannya, keretapun datang, perasaan ragu datang kembali setelah ia melihat kereta, Rina memandangi kereta sampai pergi. Ia berfikir, wah sayang juga nih tiketnya, kira-kira bisa ditukar lagi tidak ya,. Kan lumayan walaupun pun hanya dua ribu,hehe. Akhirnya Rina pun mencoba menukarkan tiket itu dengan uang lagi.
“permisi, pak saya tidak jadi naik kereta, kira-kira boleh dibalikin lagi tidak?” Rina meminta dengan gaya agak sedikit manja”.
“ oh tidak bisa dik, tiket yang sudah dibeli tidak bisa ditukar lagi” jawab penjaga tiket itu, Rina pun tidak mau kalah “ ya pak masa hanya satu orang saja tidak bisa, ayo donk pak, Cuma saya saja kok” bujuk Rina.
Setelah beberapa menit bernego, akhirnya penjaga tiket itu mengalah,
“tapi dengan syarat” katanya, “kenalan dulu ya..siapa nama adik?”
dalam hatinya berkata, hhmm genit juga penjaga tiketnya, tapi baiklah yang penting aku tidak dipegang dan tidak di apa-apain. Akupun menyebutkan nama
“Rina”
setelah itu dia langsung memberikan uang dua ribu aku, dan aku mengembalikan tiketnya. Rina tertawa dalam hati, hihi aneh juga ya penjaga tiket itu.
“hati-hati ya Rina” teriak penjaga tiket itu.
“oh iya” kata aku.
Rina pun langsung menuju halte UI untuk menunggu temannya. Lama ia menunggu, sekitar satu jam temannya baru muncul. Dan tanpa sepatah katapun, temannya yang bernama Ririn itu langsung memberinya sebuah helm
“cepat kita sudah telat” katanya.
Tidak banyak basa basi Rina pun langsung duduk dibelakang Ririn. Begitu cepat dan gesitnya Ririn mengendarai motor, Rina agak sedikit khawatir dengan cara dia membawa motor, kami pasti selalu menyusul motor-motor yang ada didepan, saat macetpun dia pandai selip sana selip sini, lalu Ririn menegur Rina
“Rin..lo baik-baik saja kan?, dari tadi diem aja”
“iya aku baik-baik saja kok, tapi jangan kenceng-kenceng donk bawa motornya, aku khawatir ne, lebih baik santai saja, yang penting selamat sampai tujuan” Rina mengingatkan Ririn.
“ah kalau seperti itu lama sampainya Rin”
“ya sudah terserah lo saja”.
Seketika pikiran Rina kosong dan pandangannya ikut kosong, segera saja Rina banyak-banyak membaca doa agar baik-baik saja. Tapi tiba-tiba oh kenapa Rina jadi mengantuk, Rina berfikir pejamkan mata saja agar lebih rileks. Sesekali Rina pejamkan mata dan sesekali Rina melek kembali, temannya semakin kencang saja ternyata membawa motornya, karena mereka tidak ingin telat kerja. Rina pun memejamkan mata sambil berdoa yaitu doa untuk tidur yang menurut agama islam. Rina bermimpi ada seorang gadis sedang menangis, dia sendirian tempat itu begitu gelap dan sepi, aku ketakutan, dan jauh ditempat lain banyak orang yang memanggil-manggil namanya, seketika menjadi ramai, lalu sepi kembali. Rina pun terbangun dari mimpi anehnya itu. Lalu ada perasaan aneh dan pening dikepalanya, Rina membuka mata pelan-pelan, dan ia terkejut, dimana aku. Apakah aku masih bermimpi. Kenapa aku didalam kamar sekarang, tiba-tiba disekelilingnya banyak orang yang tidak ia kenal. Rina melihat bajunya berlumuran darah dan luka-luka disekitar tangan, ia merasakan sakit dikepalanya dan wajahnya sangat perih sekali. Ternyata Rina kecelakaan. Dan ia sedang terbaring dirumah sakit. Kepalanya pusing hingga matanya tidak kuat untuk melihat lagi, sepertinya ingin memejamkan mata, akan lebih enak. Lalu suster langsung panggil-panggil namanya, katanya jangan sampai Rina tertidur, jika Rina tertidur maka matilah Rina, huuuu…serem. Rina pingsan tak lebih dari satu jam. Pihak rumah sakit langsung menghubungi keluarganya begitu ia sadar. Rina terus saja muntah-muntah karena ginjalnya kena benturan juga. Untung saja masyarakat setempat yang berbaik hati itu mau menolongnya, yang padahal tidak kenal sama sekali. Masyarakat setempat mengira bahwa Rina sudah meninggal, sebab ditempat kejadian ia jatuh, Rina begitu banyak mengeluarkan darah dan tidak sadarkan diri, karna masih tersisa sedikit nafas warga langsung membawa Rina kerumah sakit terdekat. Dan Alhamdulillah Rina terselamatkan karena pertolongan warga setempat. Ternyata Rina adalah orang ketiga yang jatuh ditempat yang sama seperti orang-orang yang jatuh sebelumnya, dan setiap yang jatuh ditempat itu mereka semuanya meninggal, dan kini Rina terselamatkan. Warga terharu dan bersyukur, mereka ada yang membawa makanan dan minuman untuk menjenguknya, oh Tuhan mereka sungguh sangat baik sekali. Engkau kirimkan malaikat penolong melalui perantara warga-warga yang baik itu. Terimah kasih Tuhan. Lalu keluargaku datang untuk menjemputnya, dan Rina dibawa ketangerang ditempat saudaranya untuk rawat jalan. Tak terasa sudah sepuluh hari Rina telah melakukan rawat jalan, Rina ingin sekali balik ke Depok karena akan ada ujian semester saat itu. Dengan sangat terpaksa Rina harus pergi walaupun kondisinya saat itu belum cukup baik untuk perjalanan jauh atau untuk kegiatan lainnya. Orangtuanya sepertinya acuh dengan keadaannya saat itu, jadi walaupun kondisinya masih kurang baik mereka tetap membiarkan Rina pergi.
Rina pergi ke Depok sendirian dengan kondisi sangat lemah, ia hanya bisa berdoa semoga ia selamat sampai tujuan. Sekitar lima jam perjalanan dari tempat saudaranya sampai ke Depok. Setelah sampai badannya terkulai lemas dan Rina langsung tidur selama tiga jam. Akhirnya Rina merawat diri sendiri dikostan hingga kondisinya membaik.
Setelah sembuh Rina berhenti kerja, dan ingin fokus pada kuliah saja. Dan sekarang ia punya keluarga angkat ditempat kenangannya jatuh,hehe.. Ternyata ada hikmah dibalik kecelakaan itu.
By:
Nama: Asmaeni
Npm: 10607014
Kelas: 4SA02
Wednesday, 9 June 2010
Resep Masakan BIHUN KERABU
Hasil 3-4 porsi persiapan 20 menit pengolahan 5 menit
125 g kelapa parut
2 batang serai, iris halus yang bagian putihnya saja
125 g bihun
150 g udang, bersihkan
2-3 sdt sambal terasi siap pakai
[beli di supermarket]
Sari jeruk nipis dari 2bh jeruk
3bh bawang merah, iris halus
15 daun kemangi
12 daun laksa/daun kesum
[tersedia di Carrefour]
20 daun mint
2 daun jeruk purut
3-4 cabe rawit, cincang halus 1 ½ sdm irisan halus bunga honje
Cara membuat :
1. sangrai kelapa dan serai dengan menggunakan wajan antilengket selama 10-12 menit hingga berwarna kuning keemasan. Pinadhkan kedalam mangkuk dan sisihkan.
2. rendam bihun dalam air mendidih hingga 3-4 menit atau hingga lemas, tiriskan dan siram dengan air dingin, tiriskan kembali hingga airnya benar-benar kering. Letakkan bihun di atas piring.
3. rebus udang dalam air mendidih selama 2-3 menit atau hingga matang. Kupas dan cincang kasar, aduk bersama sambal terasi, sari jeruk nipis, dan bawang merah.
4. cuci seluruh daun-daun untuk bumbu hingga bersih, tiriskan. Iris halus daunnya. Gunting bihun hingga menjadi potongan kecil, kemudian aduk hingga tercampur bersama kelapa, daun-daunan, udang, cabe, dan bunga honje. Bila terlalu kering, tambahkan sari jeruk nipis atau perciki air. Hidangkan segera.
Masa Kecil Rasulullah yang Mengejutkan
Sejak kelahirannya bukti-bukti kebesaran dirinya sebagai calon pemimpin umat tampak sekali, dan dapat disaksikan oleh semua orang yang hidup di zaman itu, dengan melihat tanda-tanda alam serta pertumbuhan tubuh dan mentalnya.
Diceritakan dalam kitab “Maulidul Barzanjiy” : bahwa Rasulullah saw lahir sambil meletakkan kedua belah tangannya di atas bumi dengan mengangkat kepala keatas langit yang tinggi. Demikian itu, sebagai tanda pada sikap kepemimpinannya dan ketinggian pangkatnya. Juga sebagai isyarah kepada keluhuran martabatnya melebihi seluruh manusia.
Beliau lahir dalam keadaan bersih, sudah berkhitan dan tali pusarnya telah terpotong dengan kehendak Allah. Beliau lahir degan keharuman baunya yang semerbak, rambutnya berminyak dan kedua matanuya bercelak.
Ada keterangan lain yang mengatakan, bahwa Rasulullah saw lahir masih belum di khitan, lalu datuknya yang mengkhitan beliau dalam usia tujuh hari, seperti yang dilakukan oleh umumnya orang arab.
Keistimewaan lain yang terjadi pada diri Rasulullah saw sewaktu kecil, pertumbuhannya sangatlah pesat. Waktu satu hari bagi Rasulullah sama halnya dengan waktu satu bulan bagi anak-anak lain. Sehinnga tidaklah mengherankan jika beliau telah dapat berdiri dengan tegaknya ketika baru berusia tiga bulan, dapat berjalan dalam usia lima bulan, dan telah menjadi anak yang tegar serta kuat ketika mencapai usia sembilan bulan, serta dapat berbicara denagn fasihnya.
Halimah binti Abu Dzu’aib wanita yang menyusui Rasulullah saw mengatakan : “ Rasulullah saw tumbuh dengan baik, tidak seperti bayi-bayi lain, bahkan sebelum usia dua tahun dia sudan tumbuh pesat.
“Kangen”
Ketika haRi menjadi gelap bayangmu mulai memudar
Aku pun mulai terlelap oleh keheningan malam
Waktu telah berlalu dengan bergantian senja
Aku tau…kekuranganku hanya membuatmu jenuh…
Tapi aku tetap berusaha mengejar bayangmu walau hanya semu
Hati…
Yang tidak dapat dibohongi oleh diriku sendiri…
Kini kesepian yang membuat aku rindu padaMu…
Aku memang munafik…
Aku memang bodoh…
Tapi please…
Beri tahu aku…dimana adanya dirimu…
Dimana letak pintu hati maafmu
Andaikan nyawaku bisa memuaskan sakit hatimu
Aku rela…
